Dongeng dari Kampong Muluy

ASAL MUASAL MENGAPA TAWON MADU SELALU HINGGAP
DI POHON YANG TINGGI

Awal mulanya ada seorang manusia yang  bernama Silu dan Ine Lintai di Tanjung Tasik (Pesisir) mereka hidup terpisah, silu tersebut mempunyai anak buah yaitu tawon yang menghasilkan madu, di antara jarak silu dengan Ine Lintai tersebut hidplah seorang mahluk gaib atau dalam bahasa muluy disebut ‘Uwok’ , yaitu sebutan yang biasa di gunakan untuk menyebut hantu, hantu tersebut bernama  ‘Bensenu’,.

Suatu hari Silu mendengar bahwa di perkampungan atau di gunung tempat Ine Lintai tersebut mengalami musim pacelik, disisi lain setiap kali tawon madu tersebut berpindah tempat Silu selalu melihatnya dan pada suatu ketika saat Silu melihat tawon madu tersebut lewat atu melintas, maka dipanggillah oleh Silu dan di perintahkan oleh Silu untuk pergi ke wilayah-wilayah yang banyak dihuni oleh manusia seperti di kampong-kampong,  pegunungan dll untuk menghidupi orang-orang yang sedang mengalami musim paceklik tersebut, selain diperintahkan untuk menghidupi orang-orang tersebut tawon tersebut juga di beri pengarahan untuk hidup dan membuat sarang di tempat-tempat yang dapat di jangkau oleh orang dan tidak terlalu tinggi kira-kira paling tinggi 3 meter dari atas tanah maka disitulah kalian hinggap supaya mudah untuk di jangkau oleh orang yang membutuhkannya,

Setelah beberapa tahun berlalu di lihatlah tawon madu tersebut  oleh bensenu bersarang di pohon yang jabuk dan sudah roboh dan suatu ketika dipanggil oleh Bensenu untuk mampir dan berbincang dengan nya, maka suatu ketika mampirlah tawon madu tersebut dan berbincang, karena tabiat Bensenu tersebut adalah jahat  maka di pengaruhi dan  disuruhlah si tawon tersebut untuk tinggal di pohon yang tinggi, kata si Bensenu kepada si tawon tersebut kamu kalau bersarang jangan mudah untuk di ambil dan kalau kamu di ambil madumu serang dan sengat dia dan juga kamu harus cari tempat dimana pohon yang banyak timangnya, timang adalah macan tapi yang sudah mati atau tempat yang banyak timang yang sudah mati,  sehingga kamu di jaga oleh timang tersebut. Karena tawon tersebut termakan hasutan oleh si bensenu tadi maka hingga saat ini tawon madu tersebut selalu bersarang di tempat yang tinggi. Padahal sebelumnya tawon madu tersebut disuruh oleh si Silu untuk baik dan harus membantu untuk menghidupi masyarakat yang sedang menghadapi musim paceklik tapi karena hasutan dari si Bensenu tadi maka si tawon madu tersebut menurutinya dan lupa akan perintah dari Silu supaya tidak menyusahkan orang pada saat mengambil madunya,
Selain itu Bensenu juga punya anak buah tawon madu yang namanya tanggur, tawon madu ini berbeda  dengan tawon yang dimiliki oleh Silu yaitu sarangnya bisa lebih panjang mencapai 1 sampai 3 depa dan rasanya lebih panas dari tawon yang dimiliki  Silu, jika dia nyengat bisa mematikan  bagi orang yang memanennya jika tidak hati-hati dan punya pisik yang kuat untuk terkena  sengatan nya

Itulah sebabnya sekarang mengapa tawon madu yang biasa kita minum madunya tersebut selalu hinggap di pohon yang tinggi-tinggi seperti  jelomu, bangris, dan lainnya dan mengapa juga sekarang tawon madu tersebut jika diambil madunya selalu menyerang orang yang mengambilnya karena dulunya tawon madu tersebut diperintahkan oleh si silu untuk baik dan tidak menyerang orang yang mengambilnya tapi ketika di hasut pleh si Bensenu maka semenjak itulah jika musim panen madu datang tawon-tawon tersebut selalu menyerang si pemanennya akan tetapi sengatan yang dihasilkan oleh tawon madu milik silu tersebut tidak terlalu mematikan  akan tetapi ada tawon yang lebih mematikan, Dan karena setiap pohon madu selalu di tunggu oleh timang maka setiap pohon madu yang di hinggapi terdapat bekas cakaran di bawah pohonnya

Keterangan tambahan :
Silu punya saudara yang namanya MULANG dan menghilaang di gunung lumut dan menurut kepercayaan masyarakat gunung lumut  karena memikirkan si Silu yang pergi kelaut danum dan tak kembali lagi Mulang bunuh diri pergi ke gunung lumut dan sampai saat ini Mulang menghilang tak ada yang tau. Timang adalah mahluk gaib berupa macan yang sudah mati, kepercayaan Muluy jika dia mau menampakan diri maka dia tampak, tapi jika tidak maka dia tidak tampak wujudnya sebesar macan biasa, jika buntutnya sudah menyentuh tanah tandei maka hilanglah dia
Ciri pohon madu yang ada madunya adalah adanya bekas cakaran timang di batang pohon madu tersebut nah bekas cakaran tersebut dipercaya sebagai roh dari macan yang sudah mati yang meninjukan tempat dimana tawon madu harus membuat sarang

Iklan
Dipublikasi di KABAR DARI KAMPONG | Meninggalkan komentar

Kampung Lusan

Gambaran Umum Desa Lusan
Desa Lusan merupakan salah satu desa yang berada di wilayah kecamatan Muara Komam, kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur. Letak wilayah desa Lusan berdasarkan titik koordinat Lintang bujur yaitu: 115°32´BT hingga 115°48´ BT dan 1°117´ LS hingga 1°38´ LS. Posisinya berada di Selatan barat daya dari wilayah provinsi kalimantan timur yang desanya berbatasan dengan kalimantan tengah di sebelah utara dan provinsi Kalimantan Selatan di sebelah barat, sedangkan sebelah timur hingga selatan berbatasan dengan desa Swan Slotung, desa Muara Payang dan desa Binangon.

Nama desa Lusan diambil dari nama sungai Lusan yang merupakan anak sungai Kandilo yaitu salah satu sungai terpanjang di kabupaten Paser. Desa Lusan memiliki dua wilayah RT (Rukun Tetangga), RT 1 berada di desa utama desa Lusan dan RT 2 berada di Rongan,  sekitar 7 kilometer (Km) ke arah selatan dari Lusan. Jarak desa Lusan dari pusat pemerintahan kecamatan di Muara Komam sekitar 37 Km melalui jalan darat dan jarak dari ibu kota kabupaten (Tanah Grogot) sekitar 121 Km. Desa terdekat dari desa Lusan adalah desa Muara Payang yang berjarak sekitar 13 Km. Kondisi jalan dari desa Lusan sebagian besar masih berupa pengerasan dengan campuran tanah dan kerikil.

Untuk menuju desa Lusan dapat menggunakan kendaraan sepeda motor atau mobil. Kebanyakan penduduk Lusan menggunakan sepeda motor atau sewa ojek untuk angkutan sendiri. Sebelum adanya pengerasan pada tahun 2008 jalan antara desa Luasan dan desa Muara Payang sangatlah sulit dilalui di saat musim hujan. Kondisi jalan tanah berubah menjadi kubangan lumpur yang licin, sehingga hanya mobil gardan ganda yang bisa melalui jalan tersebut dengan meninggalkan bekas berupa kubangan baru. Masyarakat sering sekali membicarakan dan menggerutu mengenai persoalan transportasi yang menghambat kemajuan perekonomian dan kemudahan akses masyarakat ke pasar. Hasil-hasil bumi terlambat dipasarkan dan menjadi murah karena rusak. Bahan bakar minyak dan barang kebutuhan sehari-hari menjadi mahal. Hanya mobil jenis hardtop dan truk milik cukong kayu yang lalu lalang mengangkut kayu dan merekapun sering disalahkan.Untuk masuk ke desa Lusan juga bisa melewati sungai Kendilo dengan menggunakan perahu kayu dengan mesin ketinting dengan waktu tempuh selama ± 5 jam perjalanan. Pada jaman dahulu sebelum jalan darat dibangun dan air sungai Kendilo masih stabil masyarakat desa Lusan menggunakan sungai sebagai satu-satunya akses ke pasar Muara Komam untuk menjual hasil bumi dan berbelanja untuk keperluan ekonomi rumah tangga.

Iklim dan curah hujan di desa Lusan, sebagaimana daerah kabupaten Paser yang beriklim tropis dan tidak memiliki perbedaan musim yang jelas. Curah hujan tertinggi seringkali terjadi pada bulan Nopember, Desember, Januari, Februari dan Maret. Pada situasi hujan, udara dingin sangat terasa, utamanya pada malam hari. Pada saat musim penghujan sering pula terjadi banjir yang mengakibatkan air sungai melimpah dan menggenangi kawasan dataran rendah. Beberapa tahun terahir iklim dan curah hujan semakin tidak menentu, terkadang sepanjang bulan di musim hujan justru matahari terik. Situasi seperti ini sangat mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat dan juga mengakibatkan munculnya permasalahan hama di lahan pertanian mereka. Berdasarkan hasil pemetaan partisipatif yang difasilitasi oleh JKPP (Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif) Region Kalimantan Timur pada tahun 2007, diketahui bahwa luas wilayah desa Lusan adalah 55.644,87 hektar. Umumnya kondisi topografi wilayah desa Lusan didominasi oleh perbukitan dan merupakan kawasan berhutan, dengan gunung tertinggi yang berada di perbatasan provinsi Kalimantan Tengah, yang dinamakan gunung Sowai dan gunung Pontor. Dari tempat yang tinggi di Batu Poli, terlihat panorama alam Lusan yang begitu memukau, lekuk-lekuk bukit dan hamparan hijau yang indah.

Aroma  khas tanah hutan masih terasa menyegarkan. Kehidupan alam liar masih ada di sini dan dengan kualitas yang cenderung berkurang. Penyebab potensial adalah semakin besarnya kegiatan pembukaan dan pengusahaan hasil hutan oleh perusahaan kayu yang sudah di mulai sejak tahun 1970  hingga sekarang.  Jenis pohon kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri) dan pohon madu (Banggeris, sp) yang dilindungi masih dapat dengan mudah dijumpai di dalam hutan. Semenjak adanya ekonomi hutan, kayu ulin, gaharu, damar, sungkai, maupun pohon kayu jenis meranti dan jenis kayu lainnya sudah semakin berkurang. Terdapat pula tanaman rotan jenis sega (Calamus caesius) di kawasan hutan bekas ladang dan dalam hutan alam yang ditanam, diolah dan dijual oleh masyarakat setempat. Di bekas kebun dan bekas kampung yang telah menjadi Lati dan Sipung terdapat banyak jenis pohon buah seperti durian, langsat, cempedak, nangka, rambutan, mangga dan lain-lain.

Hewan rusa atau payau (Cervus unicolor), Kijang (Muntiacus muntjac), kancil (Tragulus javanicus), beruang madu (Helarctos malayanus), babi hutan (Sus scrofa), landak (Hystix brachyura), musang (Fooradoxous). Berbagai jenis primata, ular dan berbagai jenis burung, dapat ditemukan di Lusan. Beberapa jenis hewan tersebut yang memiliki nilai ekonomi tinggi menjadi hewan buruan yang diburu untuk dijual atau dimakan dagingnya.

Lusan memiliki banyak sekali sungai besar dan kecil yang airnya mengalir jauh hingga ke Tanah Grogot (ibu kota kabupaten Paser). Sungai-sungai tersebut antara lain; sungai Lusan, Rongan, Kuasan, Tepan, Pemerayan, dan lain sebagainya. Terdapat juga rawa-rawa kecil yang dinamakan Lanang dan Limbung Putung. Sungai dan rawa-rawa ini tempat kehidupan ekosistem air dan lahan basah, tempat hidup dari berbagai jenis ikan dan berbagai tanaman dan hewan air. Bagi masyarakat, sungai tidak hanya berfungsi menyediakan air dan jasa lingkungan, tetapi juga merupakan identitas bagi penduduk yang sudah lama berdiam di tempat tersebut, sungai merupakan identitas ‘hak ulayat’ masyarakat atas tanah dan kekayaan alam.

Fasilitas sosial di desa Lusan, sebagai berikut; ada satu buah bangunan Sekolah Dasar (SD) dengan jumlah kelas sebanyak 3 kelas dan 4 tenaga pengajar, ada satu bangunan Masjid, satu lokasi kuburan, satu lapangan Bulutangkis, satu unit mesin penggilingan padi, satu bangunan kantor desa, 1 buah Rumah dinas kepala desa, kantor BPD (Badan Permusawaratan Desa),  satu bangunan Balai Desa dan satu  bangunan Puskesmas pembantu.
Kebanyakan penduduk yang berpendapatan rendah di Lusan terpaksa memutuskan sekolah anaknya karena faktor biaya tinggi. Ada banyak anak usia sekolah lanjutan tidak bersekolah. Sekolah Menengah Pertama (SMP) satu atap terdekat adanya di Muara Payang yang berjarak 13 km dari desa tersebut, sedangkan  Sekolah Menengah Umum (SMU) adanya di ibu kota kecamatan Muara Komam. Untuk memenuhi pendidikan non formal bidang keagamaan, telah didatangkan seorang guru agama (Dai) yang mengajarkan agama Islam.

Selain lampu minyak tanah, beberapa warga Lusan sudah memiliki mesin generator dan tenaga surya untuk kebutuhan listrik di malam hari. Biasanya para pemilik generator juga memiliki televisi sehingga dapat mengakses informasi mengenai perkembagan dan usaha yang ada di luar kampong. Bahkan beberapa warga memiliki alat komunikasi telepon selular (handphone) sehingga dapat mengakses sinyal operator Telkomsel di tempat-tempat tertentu.

Fasilitas sosial ekonomi, yakni; sedikitnya ada lima kios yang aktif  dan menjual barang campuran kebutuhan sehari-hari serta membeli hasil bumi yang dihasilkan masyarakat seperti: rotan, madu, kopi, dan lainnya. Biasanya pemilik kios berfungsi untuk menyediakan modal dan logistik bagi pekerja rotan, madu dan usaha kayu, maupun semacam bank untuk menyediakan modal pengembangan usaha lainnya.(amin)

Dipublikasi di KABAR DARI KAMPONG | Meninggalkan komentar

KAMPUNG MULUY

Kampong Muluy dan Sejarah Kampong Muluy

Letak Geografis, Akses dan Kependudukan
Asal kata Muluy  menurut penuturan Jidan; Kepala Adat Kampung Muluy berasal dari nama sungai yang ada di kampong Muluy yang merupakan anak dari aliran sumber mata air (air terjun Gunung Lumut).  Kampong Muluy sebelumnya merupakan wilayah Muluy Kuaro, yang kemudian secara administratif dimekarkan menjadi dua bagian yaitu satu bagiannya menjadi wilayah Transmigrasi Hutan Tanaman Industri ( Trans HTI) yang wilayahnya disebut wilayah Swan Slotung dan bagian lainnya adalah Kampong Muluy. Secara administrative, Kampong Muluy terletak di Desa Swan Slotung Kecamatan Muara Komam Kabupaten Pasir, Provinsi Kalimantan Timur.

Wilayah Kampong Muluy merupakan wilayah adat yang terletak di pegunungan Gunung Lumut, tepatnya di sekitar sungai-sungai yang mengalir di sela-sela kaki gunung. .Di Selatan kampong nampak puncak Gunung Lumut yang hijau oleh tutupan hutan dan lumut yang senatiasa basah karena dicium awan. Dengan tinggi 1.888 meter dari permukaan laut, Gunung Lumut nampak perkasa. Seakan tugu raksasa yang membatasi langsung empat desa (Muluy, Swan Slotung, Long Sayo, Rantau Layung, Pinang Jatus dan Lambakan) yang berada di tiga Kecamatan; Muara Komam, Batu Sopang dan Long Kali, Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur. Berdasarkan penuturan  masyarakat Kampong Muluy luas Kampong Muluy setara dengan 13.000 hektar, hal inipun telah dibuktikan dengan data luasan yang dihasilkan dari proses pemetaan partisipatif. Kampong Muluy dihuni oleh orang-orang yang berasal dari etnis Paser, berada sekitar 120 kilometer dari Tanah Grogot, ibukota Kabupaten Paser atau sekitar 250 kilometer dari kota Samarinda, ibukota Propinsi Kalimantan Timur. Saat ini sebagian wilayah adat Kampong Muluy ditetapkan sebagai kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut yang luas keseluruhannya adalah tiga kali luasan wilayah adat Kampong Muluy. Untuk mencapai Kampong Muluy dapat ditempuh selama dua setengah jam dengan  kendaraan bermotor. Jarak Kampong Muluy dari simpang Jalan perusahaan di desa Simpang Lembok kecamatan Long Ikis kurang lebih sekitar 71 kilometer. Di sepanjang jalan menuju Kampong Muluy, terdapat hamparan kebun kelapa sawit sepanjang 8 kilometer,  kemudian terdapat hamparan lahan perusahaan (HPH) milik PT. Telaga Mas sepanjang perjalanan. Setelahnya akan ditemui hamparan bekas ladang bercampur semak belukar sepanjang kurang lebih 5 kilometer dan sebelum sampai ke Kampong Muluy akan ditemui hutan lebat, itulah bagian dari wilayah Kampong Muluy. (among)

Dipublikasi di KABAR DARI KAMPONG | Tag | Meninggalkan komentar

KAWASAN KELOLA HUTAN ADAT DI KABUPATEN PASER

SURAT PERNYATAAN BERSAMA :
MENGUKUHKAN KAWASAN KELOLA HUTAN ADAT DI KABUPATEN PASER

Hutan adat sudah dikenal semenjak berabad-abad lamanya oleh masyarakat adat Paser yang berdiam di sekitar dan di dalam kawasan Hutan. Pada perkembangannya sampai saat ini Pemerintah daerah dan Pusat belum mengakui secara legal/resmi mengenai atas hak hutan adat yang telah dikelola oleh masyarakat adat itu sendiri.

Sementara itu tidak bisa dipungkiri bahwa ancaman dan gangguan terhadap kawasan kelola hutan adat semakin lama semakin besar, ancaman itu berupa ; investasi sektor sumber penghidupan rakyat (SDA) dalam bentuk perluasan perkebunan kelapa sawit skala besar, pertambangan dan Hak Pengusahaan Hutan-Tanaman Industri (HPH-TI). Dan ditambah dengan skema-skema “Konservasi” atau perlindungan keanekaragaman hayati yang tidak memihak kepada hak-hak masyarakat adat dan keadilan lingkungan hidup termasuk skema Perdagangan Karbon (dalam skema REDD) yang ditawarkan dalam kerangka perubahan iklim juga menjadi salah satu faktor ancaman bagi eksistensi dan keberadaan dan pengelolaan hutan adat di Kabupaten Paser. Dampak dari semua ini akan dirasakan langsung oleh masyarakat adat yang tinggal di sekitar dan di dalam hutan.

Oleh sebab itu, kami yang hadir dalam pertemuan pada tanggal 20 – 21 Agustus 2009 di Kampong Muara Payang kecamatan Muara Komam Kabupaten Paser – Kalimantan Timur  bersepakat untuk :

  1. Menolak segala bentuk investasi sumber penghidupan rakyat (SDA) yang selama ini merusak dan menggusur kawasan kelola hutan adat
  2. Menghindari dan melawan skema-skema “Konservasi” dan atau perlindungan keanekaragaman hayati yang tidak memihak kepada keadilan ekologi dan hak-hak masyarakat adat.
  3. Mendesak kepada Pemerintah, Investasi (perusahaan) dan LSM Konservasi International untuk melakukan konsultasi dan kebebasan serta kemerdekaan dalam  memilih terhadap segala bentuk tawaran investasi dan skema konservasi atau perlindungan keanekaragaman hayati.
  4. Menetapkan kawasan hutan adat yang dikelola secara bersama di beberapa kampong seperti ; i). Kampong Muluy;  10.000 ha hutan adat dan 3.000 ha untuk pengelolaan seperti berladang, berburu dan berkebun; ii). Sekuan Makmur; kurang lebih 100 ha (dalam tahap penjajakan); iii). Long Sayo; 8.000 ha hutan adat dan 2.000 ha untuk berladang; iv). Muara Payang; 10.000 ha hutan adat; v). Lusan; 7.500 ha hutan adat dengan peruntukkan sebagai kawasan perlindungan adat, berkebun dan berburu; vi). Kepala Telake (Tompok); 10.000 ha hutan adat dan 5.000 ha untuk berladang, serta 5.000 untuk berburu; vii). Muara Samu; kawasan Gunung Belaung seluas 3 Km persegi berupa kebun rotan, buah-buahan (kopi, durian, langsat, pohon madu dan lain sebagainya) dan 2 danau (kreketa dan tora mais)
  5. Mendesak Pemerintah Daerah untuk membuat dan memperbaiki Peraturan Daerah (Perda) mengenai Pengakuan Hak Adat, serta membuatkan SK Pengelolaan Hutan Adat di Kabupaten Paser.

Demikian surat pernyataan bersama ini dibuat yang ditandatangani oleh masing-masing perwakilan kampung di dua Daerah Aliran Sungai (DAS) ; Telake dan Kendilo di Kabupaten Paser. Adapun tandatangan masing-masing perwakilan masyarakat kampung terlampir yang tidak terpisahkan dalam surat ini.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar